SPECIAL ADS

21 Jun 2014

Penulis Amerika masuk Islam kerana jilbab


Banyak wanita Amerika Syarikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Dia telah mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Dan dari pengalamannya yang unik tentang jilbab itu, dia kemudian bersyahadah.

Seperti disiarkan dalam onislam pada minggu lalu, Carissa menuliskan kisahnya. Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam, prinspi-prinsip dan karakteristiknya.

“Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identiti muslimah yang khas, membuat saya sangat tertarik,” ujarnya.

Dan entah mengapa, Carissa merasakan dirinya terpesona dengan wanita yang mengenakan jilbab.

Seiring berjalannya kajian Islam-nya, Carissa rajin pergi ke kedai buku dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggeris. Samada Al-Quran, hadis mahupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan pada suatu hari, dia menemukan jilbab di barisan abaya. Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk mencuba.

“Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.

Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang aneh.

“Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai orang yang berbeza, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam rasionalnya. “Bahawa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.

“Sekarang saya menyedari bahwa membeli jilbab ketika itu adalah langkah awal saya mendapatkan hidayah,” ujarnya.

Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum berkesempatan untuk memakai jilbab itu seperti yang dirancangnya. Di samping, dia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab tersebut. Akhirnya dia pun membeli jilbab yang disukainya ketika kembali ke kedai buku.

Carissa kemudian mula memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat berkunjung ke gerai makanan halal, ketika ke kedai buku, dan beberapa kesempatan yang lain, dia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, dia pergi bersama suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.

“Aku merasa aman dan tenang. Aku tak lagi mendapati pandangan lelaki menganggu yang tertumpu padaku.”

Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam dia mempelajari Islam, akhirnya dia juga memutuskan untuk bersyahadah.

Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan jilbab sebagai mahkotanya. Dia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu, dia menyedari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tiada ulasan: